Rabu, 17 Mei 2023

Gusti Nyuwun Kawelasan, untuk aku yang masih Krasan


 

17 Mei 2023
Rasanya ini sangat relate dengan keadaan sekarang. 
Ya Tuhan mohon belas kasihan, Kasihanilah aku ya Allah.

Bukan sebuah masalah besar, hanya saja jiwaku terusik untuk mencari-cari seseorang yang pernah singgah. Masalah kecil jadi besar kan? 

Padahal ada sebuah buku yang tadi siang diberikan oleh Pak Oktoditya, "Jangan Membuat Masalah Kecil Menjadi Besar".

Akupun heran, bagaimana begitu lama bersemayam, padahal 
Tidak banyak hal yang kami lakukan bersama
Tidak gagah rupawan juga tampan
Tidak jelas juga.

Ah mungkin itu akan membantu, ketika nasehat, Jangan menengok lagi ke belakang. Ingat Istri Lot menjadi tiang garam sudah tidak mempan.

Rabu, 26 April 2023

15 Tahun Pertemanan

Aku menuliskan nya pada 26 April 2023, saat aku tidak lagi melakukan komunikasi dengan temanku.
Mungkin akan melakukan komunikasi lagi saat aku sudah menikah nanti.

Aku membanggakan pertemanan kami, 15 tahun berteman.
Aku mengenal manusia ini sejak 2007, saat duduk di bangku kelas VII SMP.
Oleh sebab itu, Aku akan menuliskan penggalan cerita pertemanan kami.

Aku adalah perempuan kecil yang cukup ribut saat di kelas kala SMP. Karena aku menganut agama Kristen, maka kelasku adalah urutan paling akhir dalam abjad kelas, VII F. Sudah layak dan sepantasnya jika non muslim ada di kelas paling akhir. Sudah menjadi rahasia umum pada zaman nya jika kelas A adalah kelas golongan siswa pandai nan berprestasi dan ndlosor di kelas F berupa kelas yang berisi kumpulan bocah-bocah ribut, nakal, trouble maker, non muslim atau anak pintar yang saat UN SD sedang sial. Hahaha.

Seperti biasa, aku menjadi pendiam ketika awal masuk lingkungan baru, begitu pula saat aku masuk di SMP tersebut. Biasalah, cek ombak, cek pergaulan, cek mana yang bisa dipersekutukan.

Kalo istilah jaman sekarang, kita bisa berteman dengan orang yang se-frekuensi. Aku heboh, menjadi ramah terhadap orang-orang, tetapi cukup ngeyel dan ribut ala anak SMP, jelas saja teman-temanku juga anak-anak laki yang ribut dan hobi gojek (tapi aku punya teman perempuan juga kok, Haha). Suatu ketika adalah pelajaran PKn, guruku bernama Zunika Zudhei, jujur takut sih karena guru tersebut masuk dalam golongan guru galak. Pelajaran tersebut memiliki aturan, jika ribut/ berisik/ cerita sendiri/ tidak memperhatikan, maka akan diminta untuk membaca materi bahasan dalam kelas. Sialnya, walaupun ribut dengan cara menunduk-pun, aku ketahuan ribut dengan teman-teman laki-laki (gerombolan Samba dan Windu atau entah siapa waktu itu). Aku diminta membaca bagian dasar negara sebelum adanya Pancasila, Peri Kemanusiaan dan peri-peri lainnya. Namun saat aku membaca, anak laki-laki dalam kelas tertawa terbahak-bahak hingga dalam kehidupan sehari-hari, itu sering digunakan untuk mengejekku, aku tidak tahu maksudnya apa, hingga waktunya aku tumbuh dewasa, akhirnya aku tahu, Hmmm deh.

Sungguh, sial. Mereka jadi tahu kalo aku celat.

Tapi tenang, terlahir celat tidak membuatku patah semangat, asyikin ajaaa brader.
Kehidupan kejar-kejaran, pukul-pukulan hingga perang bola-bola kertas lewat lubang antar dinding dengan manusia-manusia bebal penghuni VII E pun dijabanin (kelas VII E dan VII F berada paling pojok dengan langit-langit tanpa eternit jadi ada akses untuk bisa perang bola-bola kertas). Jam kosong adalah surga bagi kami pecandu gojek-gojek.

Judul pada tulisan kali ini, 15 tahun pertemanan, dengan bangga saya kenalkan, seorang Samba Aditya. 
Saya mengenalnya sejak kelas VII (2007) dan saya memutuskan untuk tidak lagi chat/ komunikasi menjelang pernikahannya (2022).

Tahun 2008, kami terpisah kelas. Samba yang lebih dikenal dengan nama Gembul, selanjutnya dan seterusnya dengan sebutan yang sudah melekat itu. Dia adalah temanku yang pintar di kelas, namun berisik dan tidak bisa diam. Mungkin dia adalah golongan yang tidak beruntung saat UN SD sehingga nilainya jelek lalu masuk ke VII F (bagian ini saya mengira-ira). Karena dia masuk kasta siswa pandai, maka dia masuk kedalam kelas VIII A sedang saya tetap di VIII F (walaupun saya pandai juga kala itu, maklum Kristen).
Kelas VIII A dan VIII F itu terpisah jauh. Kehidupan kelas VIII saya lupa tentang cerita pertemanan kami. Ternyata saya sudah punya tabiat melupakan teman saat punya kehidupan baru sedari SMP. Haha (just kidding bro).

Tahun 2009, kami naik ke kelas IX, Yeeeyyy!
Kelas IX F dihuni oleh pecahan kelas VII F dengan jumlah yang lebih sedikit, karena Gembul adalah Samba (S) maka dia masuk dalam kategori abjad akhir dan masuk dalam kelasku. Aku pendiam saat berada pada golongan pertemanan anak perempuan (Mimin, Nutri, Okky, Rina, Sherly, Ulfa, Veny dan Winda, ya kan namanya abjad pertengahan hingga akhir, C itu ya cuma nyempil aja) karena mereka suka bahas cinta-cintaan level dewa. Aku masih terjerumus dengan pertemanan pekok dengan kaum-kaum Adam yang seluruh hidupnya di dedikasikan untuk gojek-gojek.
Inilah nama-nama teman gojek-gojekku, ada yang nyebelin setengah mati juga, Thomas, Gembul dan Windu. Teguh dan Ridwan Abinowo teman baik sih tapi lebih seriyes.

Kali ini aku cerita tentang Gembul aja. Aku sesekali pulang sekolah bareng dengan mengendarai sepeda masing-masing. Kalo sudah sampai rumah, selalu chattingan dan membahas Kera Sakti. Sembari nonton Kera Sakti, kami ber-adu argumen dan saling olok mengenai tokoh didalamnya, katanya, aku adalah Patkay sedang dia adalah Kera Sakti yang lincah dan pemberani, tokoh lain yang tidak andil dalam tontonan tivi namun terseret adalah Yoga (Go Mo Ong/ Raja Kerbau) karena bentuk hidungnya yang menjulang dan suka nantang-nantang layaknya preman.
Selain itu, kami adalah dalang dari perempuan bayangan yang mengerjai teman kami dengan cara membeli nomor ponsel IM3 untuk menggoda dan mengajak kenalan. Kurang ajar memang, bagian ini tidak baik.

Kami menjadi lebih dekat lagi akrab saat berada di bangku kelas IX, juga karena harus membuat pementasan Drama Bahasa Inggris. Aku sangat bersemangat dalam setiap sesi latihan dimana aku berperan sebagai Ibu Ciung Wanara dan Gembul menjadi Ciung Wanara. Pada saat itu aku menyadari jika sepertinya aku naksir pada teman berkelahiku itu.

Sekolah Menengah Pertama selesai, kami berpisah. Aku menjadi siswi di SMA 1 Sewon, sedang Gembul di SMTI. Kami tumbuh dengan lingkungan masing-masing namun tetap berkabar saat masih duduk di kelas X , intensitas chat mulai berkurang disaat ku menginjak kelas XI, aku sibuk dengan pertemananku sendiri juga dengan cintaku yang baru. Ah selepas SMP, aku sudah berpindah ke lain hati, Hehehe.

Selepas SMA, aku melanjutkan di Universitas sedang Gembul memilih jalan untuk pergi bekerja, merantau ke Tangerang. Sekolah Teknik Industri mengantarnya bekerja di pabrik Cat (seingatku). Aku lupa bagaimana kami berpisah waktu itu. Aku hanya ingat bahwa saat pulang ke Jogja, kami bermain ke pantai Depok bersama dengan Ridwan dan Teguh, semua dana wisata ditanggung Gembul. Haha

Selanjutnya apa ya, tidak kontak lagi.
Tidak lupa, Gembul selalu ku jodoh-jodohkan dengan Venny 👀.

Kami kembali berkontak saat pandemi Covid 2019.
Aku selalu merengek-rengek minta diajak sepedaan saat Gembul posting sepeda-sepedaan dengan teman-temannya. Mungkin dia bosan sehingga dia akhirnya mau sepedaan denganku dan Lilik. 
Kami bersepeda setiap sabtu selama beberapa bulan saat pandemi. Kadang hanya berdua, namun aku memilih bertiga supaya ijin dengan orang tua lebih enak, sebab mamakku khawatir jika aku naksir Gembul. Hahaha.

Aku tumbuh menjadi perempuan yang suka berfoto, namun Gembul tidak, dia risih dengan kamera 😆
Aku mulai berhenti bersepeda bersama saat pendemi karena apa ya, lupa sih, tapi aku punya pacar, mungkin karena itu.

Kata Gembul, aku selalu melupakan dia dan cuek saat aku asyik dengan orang lain.
Normal sih ya.

Dulu Gembul tidak suka dengan pacarku yang kupuja-puja dan kujunjung setinggi langit, entah bagaimana dia menilai pujaan hatiku, jantung hatiku belahan jiwaku itu. Sirik kali ya.

Baiklah cerita ini akan bersambung di tulisan berikutnya saja.
______________
3 September 2024, tadi sore aku tidur, lalu agak malam keluar minum kopi di Matakopian. Alhasil 01.07 WIB aku masih terjaga.

Singkat cerita, setelah aku putus dengan pacar sekitar awal 2021, aku juga jadi enggak kontak Gembul untuk sekedar membeli kopi ataupun sepeda-an. Ya, aku cuekin dia, bukan karena sibuk dengan orang baru, namun aku sedang berkabung 🤣

Bulan berganti hingga di tahun 2022, aku mendapat undangan pernikahan Ulfa.
Gembul WhatsApp aku. Dia mengajak pergi bersama, aku mengiyakannya. Dia mau menjemputku, namun aku menolak, aku tidak suka berboncengan didaerah rumahku bersama laki-laki, pun bingung izin dengan orang tua harus bagaimana jika aku di jemput Gembul. Akhirnya dia mempunyai ide, bagaimana jika dia pinjam jaket "Go-Jek" dan berpura-pura sebagai karyawan ojek online. Tentu aku tidak setuju, seumur-umur aku pakai motor, bukan ngojek. Aku memutuskan untuk naik motor masing-masing secara beriringan.

Selanjutnya dia selalu berkirim pesan, persis seperti saat kami masih SMP. Hingga disuatu hari, Gembul mengirim pesan, kira-kira begini bunyinya: Mau nggak jadi pacarku?
Aku membercandainya dan berfikir dia sedang bercanda, namun di ulanginya sehingga aku memikirkan jawaban. Sembari mengulur-ulur jawaban, aku tetap merespon setiap pesan yang masuk secara berbalas, namun dia menekankan bahwa pasti aku tidak mau-kan kalo itu sungguh-sungguh. Waktu untuk mengulur mungkin sekitar satu Minggu, jawabanku memang menggantung. Pertimbangannya adalah karena dia muslim. Itu saja.

Aku sedikit lupa bagaimana kronologinya bahwa dia menyatakan bahwa dia memiliki pacar, akan menikah dan aku seperti dipermainkan saat itu juga.

Bagaimana aku bisa merasa dipermainkan?
Dia memiliki pacar, sudah hampir menikah namun menyatakan perasaannya padaku.

Saat aku menjadi pacar Marcio, aku sudah tidak mau lagi keluar, bersepeda juga malas-malasan dalam membalas chat-nya. Aku sering bilang, pacarku ganteng, pujaan hatiku, pokoknya terbaik lah, walaupun dia selalu mencela.
Dan ternyata itu adalah momen patah hatinya. 
Bagaimana aku tahu? 
Ya. Tahun 2022, menjelang pernikahannya. Dia mengirim banyak screenshoot ajakan untuk keluar namun enggan dia kirim padaku. Lalu aku ingat bahwa dia mengirim gambar hati yang diterbangkan oleh elang, padaku, namun saat itu aku tidak menyadarinya. Kukira dia hanya coba-coba tren TikTok. Saat ini terjadi, timeline dimana aku sedang pendekatan dengan Marcio.

Gembul menikahi perempuan yang selama masa patah hatinya menjadi tempat bercerita. Sehingga, saat menjelang pernikahannya, calon isterinya follow instagramku dengan akun jualannya. Hal tersebut ku ketahui dari Gembul. Akhirnya aku menghapus pertemanan juga history pesan, penandaan dan history percakapan di dinding Facebook kami. Menghapus pula pertemanan di Instagram.

Jika hanya ingin tahu hatiku, tidak perlu dia membuatku berfikir bagaimana cara menjawab yang ternyata laki-laki tersebut sudah hampir menikah. 

Akhirnya kami pergi pada pernikahan Ulfa, dengan sepeda motor beriringan. Sepulang dari rumah Ulfa, aku merasa sedih sekali, awalnya kami janjian setelah pulang ke Matakopian namun urung. Aku pergi ke Gereja St. Antonius Kotabaru, menangis. Aku sedih sekali. Temanku akan menikah, siapakah yang akan menemaniku.

Aku masih marah namun Gembul membujukku. Sepulang dari gereja dan beberapa hari kemudian hatiku terasa pulih.

Sampai pada akhirnya Gembul bertamu kerumahku, titip beberapa undangan pernikahan teman-teman kami. Saat dirumahku, calon isterinya meminta Gembul untuk mengirim share location rumahku, aku tidak mengizinkannya. Setelah Isha dia meminta izin pulang, disamping rumahku, dia memegang tanganku lamaaaaa. Hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan.

Aku tidak menghadiri pernikahannya, dia memintaku untuk tidak menghadirinya.

Aku jatuh hatinya pada masa kanak-kanak, kelas IX SMP. Saat itu aku merasakan sepertinya dia juga menyukaiku. Ternyata benar, dan baginya bertahan sangat lama.

Dia mengenalkan ku sebuah lagu, Rumah ke Rumah- Daniel Baskara, Hindia.
Dia ingin aku mengenangnya sebagai rumah.
Aku terus mencecar maksudmu apa, akhirnya aku mengiyakan.

Rumah ke Rumah (Hindia)
Menyesal tak kusampaikanCinta monyetku ke Kanya dan RebeccaApa kabar kalian di sanaSemoga hidup baik-baik sajaTak belajar terkena getahnyaSaat bersama Thanya dan SaphiraKupercaya mungkin bukan jalannyaNamun kalian banyak salah jugaJika dahulu ku tak cepat berubahIni maafku untukmu SharfinaSegala doa yang baik adanyaUntukmu dan mimpimu yang mulia

Pindah berkala rumah ke rumahBerharap bisa berujung indahWalau akhirnya harus berpisahTrima kasih karna ku tak mudahPindah berkala rumah ke rumahBerharap bisa berujung indahWalau akhirnya harus berpisahTrima kasih karna ku tak mudah
Hm

Maaf jika ku sering buat susahIndisya Panda Anggra Caca SismitaPrempuan terkuat dalam hidupkuTerjanglah apa pun yang kalian tujuKau datang saat gelapku merekahSeluruh hatiku untukmu MeidianaKau pantas dapatkan yang baik di duniaSmoga kita bertahan lama

Mamakku selalu khawatir saat aku selalu bilang mau sepedaan dengan Gembul karena tahu kalo kami beda agama. Hingga aku sering membuat nama fiktif bahwa kami bersepeda rame-rame. 

Satu hal yang tentu, dia menyadari bahwa kita tidak mau meninggalkan Allah masing-masing. Lagi katanya, dia mendengar lagu cinta beda agama, menghidupinya bertahun-tahun hidupnya dengan "nggerus".

Tahun 2022, Gembul menikah dengan perempuan muslim. Selamat berbahagia, teman kanak-kanakku.
Sejak saat itu aku tidak lagi mengirim pesan apapun pada Gembul dan sebaliknya.


Minggu, 09 April 2023

Minggu Paskah 9 April 2023

Saat saya scroll instagram malam ini, pukul 22.00, saya tidak bisa tidur. 
Saya memikirkan seseorang yang sangat saya rindukan, Jewish.
Tapi saya memilih untuk tidak mengatakannya.

Chicken soup menulis "The Great of Easter is Hope", saya mengingat kembali bahwa paskah beberapa tahun lalu, saya menuliskan bahwa Paskah adalah Harapan. 
Saat itu 2017, harapan saya adalah Wisuda. Saya ingat betul, saya selalu mulus dalam proses pendidikan di Universitas, kecuali untuk skripsi yang tidak sesuai harapan. Rasanya seperti diambang lulus tahun itu yang entahlah atau tahun depan. Saya berusaha dengan keras, jauh lebih keras daripada 4 tahun mundur.
Akhirnya saya wisuda tahun itu, sebagai hadiah Paskah saya. 

Entah hadiah Paskah apa yang saya harapkan tahun ini.
Ah kiranya semua berjalan baik, Tuhan kuatkan dan cukupkan, sudah cukup.

Sabtu, 10 Desember 2022

Desember di Bandara

Seperti Desember 2020.
Aku kembali mengantar temanku ke Bandara Yogyakarta International Airport, Kulonprogo.
Mengantar orang yang sama diwaktu pagi, sama seperti 2 tahun lalu. 

Tinggal di Yogyakarta sedari kecil, mengenal orang yang hanya menetap untuk beberapa tahun, lalu pulang seusai pendidikannya selesai. 

Aku hanya mengingat kembali lalu menuliskannya.
Bahwa 2 tahun lalu, dalam pikiranku adalah "aku tidak akan bersama dengan orang ini dalam masa yang panjang (selesai studi, akan pulang), jadi selagi aku bisa punya waktu dan kesempatan, kenapa tidak".
Tidak ada pemikiran lain yang menyelubungi tindakan ku waktu itu, notabene aku punya kekasih waktu itu.

Perempuan membawa motor dari Sewon-YIA, ku rasa bukan lelucon. 
________________________________________
Tahun ini begitu juga, walaupun rencana awal adalah naik kereta api bandara.
Sejak tahun lalu, Yogyakarta punya kereta api bandara, mau ikut sekalian mencoba kereta baru, tahun depan aku mau naik kereta ke bandara.

Tiket bisa dibeli melalui aplikasi, namun temanku tidak beli dijauh hari dengan pemahaman bahwa tiket bisa dibeli sewaktu di stasiun. Aku menyarankan namun mengiyakan saja sebab mungkin beda dengan beli tiket kereta biasa yang kami beli, dimana beli online lalu ke stasiun tinggal cetak boarding pass.
H-1 keberangkatan, temanku cek hanya ada 1 tiket kereta jam 06.00-an dan 3 tiket kereta jam 08.00-an, lalu dengan santai aku menjawab, yasudah berarti aku nggak boleh ikut sampai bandara (dengan emoji berlinang air mata tapi tidak menangis itu lho).

Singkat cerita saat di cek kembali, semua tiket ludes. Nanti beli langsung distasiun pada hari keberangkatan aja mbak, aku oke-in aja.

Benar saja, pukul 05.02 WIB aku pergi dari rumah, menjemput sang teman yang ternyata masih mandi. Lalu dengan kencang, menuju stasiun Tugu.
Alhasil tiket habis.

Setelah berfikir sebentar dan kilat, diputuskan naik motor ke bandara.
Carier di depan, oleh-oleh dan ransel ditengah.

Temanku lah yang membawa motor.

"Mas, ini mau ke bandara, bukan kota-kota"
Lucunya temanku membawa motor dengan kecepatan kota-kota, sungguh pelan dan santai.

Sedikit perjalanan, akhirnya kami gantian bawa motor, dia kasihan kalo aku bawa ransel berat, entah lah karena males nyetir atau sungguh kasihan dengan pundakku.

Aku cukup lihai dalam berkendara. 
Oke. 
See you ya.

Jumat, 28 Januari 2022

Percakapan Pagi, Menyesali

Sebuah rutinitas harian baru disetiap pagi menjelang bekerja. Duduk dengan sepertiga gelas kopi pahit yang kadang ku campur gula atau susu. 
Percakapan pagi itu sedikit lebih serius walaupun tetap terselip canda.
Disitu temanku adalah bapak-bapak seusia ayahku, ah tentu sudah bukan teman muda.
Tema perbincangan pagi itu tentang pengalaman berselisih dengan orang tua, begini intinya: hingga saatnya kehilangan/ kematian menyadarkan bahwa ya begitulah orang tua, jika ada (kadang) menyebalkan namun selagi masih hidup itu adalah kesempatan untuk mengasihi.
Hingga ku ambil sebuah poin penting dari sebuah kalimat:

"Bapakku dulu langsung nglokro (hidup berputus asa) karena kalimatku, ya mau bagaimana lagi memang tidak ada cara lain bahwa dokter sudah tidak punya jalan untuk mengobati penyakit tersebut", ungkap temanku.

"Akhirnya bapakku meninggal, bukan murni karena aku, karena sakit, namun memang setelah aku berkata demikian menjadikan bapakku patah semangat yang akhirnya meninggal, aku berkata sebenarnya, jika aku tidak berkata seperti itu mungkin akan beda cerita.

Namun, aku tidak mau menyesali hal tersebut, jika terus menyesali maka akan merusak hidup.

Ada sebuah cerita tentang penyesalan, yang berlangsung sedari tahun lalu, 2021.
Menyesal karena aku membagikan semua hal pada kekasihku (saat itu), tentang hari-hari, tentang pertemanan dan tentang kehidupan.
Menyesal karena aku tidak sanggup meminta maaf dengan baik.
Menyesal karena tidak sanggup menjelaskan sebuah kesalahpahaman.
Menyesal karena aku gagal memahami.
Menyesal karena cara mencintaiku tidak sesuai dengan inginnya.

Aku mengesampingkan perkara tersembunyi alasan yang bersangkutan akhirnya putus, yang ku tahu, aku menyesal atas apa yang aku perbuat.

Bukankah penyesalan sudah membunuhku, merenggut separuh dari jiwaku? 

Aku tidak mau berkata "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia"

Rasanya sungguh terlalu besar untuk bisa ku lakukan, aku cukup dengan apapun yang kau perbuat, perbuatlah dengan sepenuh hati.

Tidak ada kecurangan disana, apapun dengan sungguh, sampai akhirnya saat aku ingin menyesal lagi atau penyesalan akan kehilangan kala itu kembali menghampiri, aku telah berusaha dengan sungguh, berkata dengan benar hanya karna penerimaan kata yang tak sama dengan maksud hatiku.



Minggu, 16 Januari 2022

Payah

Sering aku malas membuka percakapan baru, jangankan membuka percakapan baru, menjawab pertanyaan saja aku kadang merasa malas, seakan cintaku habis untuk yang terdahulu.

Ini adalah pertanyaan berulang yang adikku sampaikan
"Emang dee tau ngenei opo sih nganti koe koyo ngene?"

Aku tidak bisa menjawabnya, sebab yang dilakukannya adalah hal yang wajar dilakukan sepasang kekasih yang bucin. Nanti aku jawab begini, tentu adikku menjawab, X juga pernah melakukannya, atau ku jawab Y, tentu ada jawaban adikku yang menangkis lagi, malah mungkin akan mencari contoh yang ekstrim. Aku terdiam dan merasa payah ketika adikku bertanya hal demikian yang tentu berulangkali dilontarkan.

Adikku hanya tidak tahu kenapa aku sungguh mencintainya, bukan perkara apa yang dia telah berikan tapi apa yang telah aku curahkan untuknya.
Tentu ada hal yang tidak pernah dia tahu.

Kadang aku merasa payah, tidak habis pikir, bisa yah orang yang ku kasihi dengan begitu besar tidak bisa merasakan bahwa aku begitu mengasihinya.
Sedang orang lain yang menerima sedikit sekali kasih dariku bisa merasakannya.

Apa salah sebuah istilah lama, setiap pemberian dari hati akan sampai ke hati, nyatanya dia tidak bisa merasakan, malah meragukan.

Ya, payah.
Aku yang sedang payah 😂🤣

Jumat, 14 Januari 2022

CHATIME TOPING PUDING

 



Seorang rekan pergi ke Bantul mengunjungiku dengan membawa minuman kesukaan-nya  selepas pergi ke Gramedia untuk membeli pulpen dan kertas. Minuman itu baru ia minum sedikit karena WhatsAppku tertulis: "kesini sekarang aja, ibadah pemudanya sudah selesai".

Kami bercengkerama dibawah gelap pohon Kersen disamping gereja malam itu.
Dia membagi Chatime Puding Mangga bersamaku. (Kenapa rekanku nggak beli dua yah, buat aku satu gitu, ah baru terpikir sore ini 14/01/2022).

Desember 2020, aku menemani rekanku cek tahunan Electroencephalography (EEG) disebuah Klinik di Pusat Kota kala jadwalku WFH. Bulan ini dia akan pulang ke rumah di Pulau seberang nan jauh sehingga kami sering berjumpa selagi kami bisa bersama-sama disisa hari menjelang libur natal.
Di hari yang sama, kami ke kos teman-nya mengantar catatan kuliahnya, membeli lips conditioner baru dan membeli Chatime Original Aloevera untuk ku, duduk bangku pedestrian tengah kota melihat lalu lalang pengendara motor hingga bercerita yang rasanya sebentar tapi ternyata lama.

Teladan yang ingin aku tuliskan bukan perihal cerita kegiatan hari itu, namun Chatime selalu mengingatkanku akan sebuah penerimaan.
Aku hanya mengingat sikap beberapa orang. Ada beberapa hinaan orang lain yang dibalut rapi dalam canda. 

Namun, saat aku mengingat percakapan disamping gereja saat hujan bulan Desember.
"Ayo tidak duduk disini, tetangga pelihara ayam, nanti bau kotoran ayam"
"Aku tidak apa, aku bukan orang yang terlalu jijik-an tin"

Atau tawarannya minum Chatime berdua dengannya, aku mengiyakan.

Aku suka cara rekanku menghargai orang lain, ya aku meneladaninya. 

Suatu ketika, aku mengajaknya ke gereja St. Antonius Kotabaru, berteduh akan terik siang kala itu. Aku melihat seorang perempuan yang menggendong tas dengan pengunci yang terbuka, pikirku dia pergi bersama teman laki-laki, pasti nanti akan ketahuan dan dibenahi. Namun rekanku memanggil dan memberitahunya, dalam hati aku hanya berkata "Oh anak ini".

Juga sepulang dari Toko Diana Musik, dia menundukkan kepalanya berpamitan pada tukang parkir, dalam hati "Hei yang orang Jawa siapaaaa."

Sering kali aku berkata, ih kita itu langit dan bumi, tapi dia tidak pernah menganggapku seperti itu.

Di mataku, orang yang punya kapasitas setinggi itu saja sanggup menerima dengan baik, berbicara dengan bahasan yang ku pahami, duduk ditempat yang sama dengan yang ku duduki.

Begitu lah saya belajar, mengingat, menanamkan dalam hati.

Lalu, saat ada orang yang berkata-kata bak pujangga dengan bermegah atau buruknya lagi merendahkanku, aku tertawa dalam hati, kau tak sebanding dengan tokoh diatas.

🙂

Rabu, 12 Januari 2022

ANAK TUNGGAL YANG MENANGAN VS ANAK PERTAMA YANG DOMINAN

Christin Sri Hastuti


Ditulis sebagai refleksi atas pengalaman pribadi tahun lalu.

Tumbuh dalam asuhan kedua orang tua dan seorang nenek membuat saya menjadi anak yang hidup berlimpah dengan kasih sayang, apalagi untuk ukuran masyarakat ibu saya menikah di usia yang tidak lagi muda, tentu saya adalah cucu yang dinantikan oleh nenek. Saya adalah anak perempuan sulung dan cucu pertama perempuan dari ibu saya saat itu.

Tentu saya biasa mendapatkan banyak cinta kasih yang berlimpah. Pada umur 5 tahun, lahir adik perempuan dalam keluarga, saya tidak terlalu ingat bagaimana orang tua saya mengasuh saya saat itu, namun banyak memori manis kasih sayang nenek saya, sebab nenek  selalu memberikan yang saya inginkan, bukankan keinginan yang dipenuhi adalah kesukaan besar. (akan saya tuliskan menyusul). 

Saya tumbuh menjadi anak perempuan yang dominan dalam keluarga, waktu kecil menentukan jenis permainan yang kami mainkan, memaksakan adik mengikuti jalan cerita sebuah permainan, dan sudah selayaknya seorang kakak biasa menjadi bossy didepan adik, seperti halnya meminta segelas susu serta permintaan-permintaan kecil sehari-hari dengan menyelipkan kata "tolong"

Tentang drama masa kecil, biasanya adik lama dalam melakukan sesuatu, atau tidak sesuai dengan rencana rekreasi setelah mandi sore, tentu saja ngambek adalah sebuah respon sehingga adik akan meminta maaf dan memohon. Sungguh drama yang tidak elok. Itulah anak perempuan sulung yang dominan. 

Saya adalah anak sulung dirumah, namun saya adalah anak bungsu dilingkungan yang lain. Saya menjadi yang termuda dalam kelas selama bertahun-tahun, mulai dari Taman Kanai-kanak sampai dalam bangku Kuliah, ditambah menjadi yang termuda di unit saya bekerja, membentuk saya memiliki jiwa anak bungsu.

Sedang di lain Pulau, ada kehidupan seorang anak laki-laki tunggal dalam keluarga. Berawal dari cerita keluarga dimana ayah dan ibu mengharapkan seorang anak, kehilangan putera dalam kandungan (kalau tidak salah, intinya meninggal) akhirnya Allah memberikan seorang putera dalam pernikahan. Tumbuh menjadi putera satu-satunya.
Pada masa remaja harus mengalami sakit yang luar biasa, ibu merawatnya hingga akhirnya saya memandangnya sebagai anak laki-laki yang memang ditakdirkan untuk hidup. Saya paham betul bagaimana kedua orang tuanya memberikan kasih sayang yang begitu besar, anak tunggal yang pastinya tidak pernah berbagi apapun dengan siapapun, sebut saja anak tunggal yang menangan. Di sisi lain, dia adalah anak bungsu di lingkungan gereja tempat pelayanan. Dijuluki sebagai adik kecil oleh kakak-kakak perempuan tentu jiwa anak bungsu tertanam disana.

Dua sosok yang sebenarnya sangat keras dan memiliki ego yang sama tingginya. Mempertahankan keyakinan dan ego adalah hal yang utama,  mengalah adalah hal yang tidak biasa dilakukan dalam sebuah perselisihan paham. 

Hal yang menyadarkan betapa merusaknya sifat keras kepala dan ego adalah sebuah perpisahan. Dengan begitu saya belajar, ya, saya telah membaca banyak cerita perpisahan karena keras kepala dan ego, namun pengalaman ini adalah guru paling nyata, perpisahan yang meluruhkan setengah dari jiwa.

Akhirnya saya paham, kenapa ibu ku dan ibu mu menjadi orang yang bisa mengalah dan berjiwa besar. Ibu kita mempertahankan pernikahan mereka.


Kamis, 06 Januari 2022

Perjumpaan sore sepulang kerja

Berawal dari komen story teman, 
🐶 Ng Jogja po? 
🐯 Iya tin 
habis campinh
--------------------------
4/1/2022
🐯 Itin apa kabarrr
Ngopi2 ngapaa

Oke, bolehlah untuk perempuan lajang keluar ngopi sepulang kerja.

Hari berikutnya, 5/1/2022
Berbincang dengan hangat tapi ditemani es cold brew pandan, jadinya yah enggak hangat lagi.

Sampai akhirnya saya tahu betul maksud kata-kata yang sempat beliau ucapkan pertengahan tahun 2019 saat liburannya di Jogja kala itu.
"Itin mah dimanja dirumah, aku tu tahuuu, pernah kerumah"
Tentu aku membantahnya, bagaimana tidak, hanya karna pernah beberapa kali kerumah di minggu pagi (bantu main musik ibadah pagi); aku mengerjakan pekerjaan rumah, dulu juga sempat membantu panen padi, atau pindahkan urug untuk rumah kami. Rasanya tidak terima. 

Tapi hari ini, paham betul bahwa bukan karena dimanja tapi rumahku adalah tempat yang aman dan nyaman untuk kehidupanku.

Dibanding dengan petualangan hidupnya yang begitu keras, tentu aku tidak sanggup berjuang sekeras dia. Selama ini aku hanya tahu tanpa mengenal perjalanan yang telah dia tempuh.
Hal menarik di tengah perbincangan,
Apa alasan kamu sanggup menjalani tanggungjawab sebesar itu untuk keluarga?

Jawabnya:
Untuk saat ini, aku dipercayakan tanggungjawab ini karena Tuhan anggap aku mampu, untuk saat ini aku yang harus jadi jalan berkat, suatu saat mungkin kebalikannya. Dan itulah alasannya kenapa aku dilahirkan.

Kalimat yang sama seperti diungkapkan Pendeta Joni beberapa bulan yang lalu.

Perjumpaan sore itu menyadarkanku kembali,
Alasan kenapa tidak sepantasnya kita menghakimi kehidupan orang lain, karena ukuran setiap manusia adalah berbeda, kita tidak pernah tahu hal-hal dibelakang sana yang sedang dihadapi.

Hidup itu perjalanan tentang perjuangan. Kehidupan dunia terkadang terasa begitu keras lantas tidak membuat kita berhenti bukan?

Istirahat, jika memang lelah.
Berjalan sedikit, demi sedikit.
Hidup dari hari ke hari.






Minggu, 02 Januari 2022

Isai di Akhir Tahun


Tahun 2021 adalah tahun yang berat untuk seorang perempuan yang biasa hidup sederhana dengan begitu tenang.
Tentang perasaan kehilangan yang setara dengan luruhnya setengah dari jiwa.
Tentang sakit mendadak yang dialami anggota keluarga, hingga sakit yang up to date (Covid - 19) kala itu.
Tentang drama perpisahan yang berlanjut hingga hampir akhir tahun.
Hingga akhirnya di malam hari, 25 Desember 2021, aku instal datting apps. 
Tanpa pikir panjang, tanpa lihat profil, semua dapat bagian love.
Match pertamaku yang adalah seorang yang tinggi besar, yang tiada kusangka adalah orang dari circleku sendiri hingga berakhir pada keheranan: "Hah? Ternyataaa".
Bukan perkara orang nya. 


Ada yang lebih menarik dari itu, aku membaca setiap sorotan yang terpampang di instagram.
Orang tersebut menuliskan banyak hal tentang kehidupan, ya tentang kekuatan jiwa.
Awalnya aku ingin menulis betapa hancurnya aku di tahun 2021 berubah haluan, aku melihat hal positif yang akhirnya menamparku "heh cengeng".

Aku melihat bahwa itu adalah Jalan Tuhan, memberi kekuatan, mengingatkan kembali dan adalah bijak dalam menulis caption di instagram (mungkin dengan dalih: akun ku terserah aku, hanya untuk diriku sendiri), ternyata tidak sesederhana itu, ada berkat untuk orang lain jika tulisan mengandung hal yang baik.

Ya, Allah menutup tahun 2021 ku dengan sepiring nasi babi lezat bersama seorang pemberani dan petualang.